Beranda > Artikel > Manajemen Kesehatan Pedet

Manajemen Kesehatan Pedet

Induk  sapi yang bunting normal selama 283 hari (278-288 hari) akan melahirkan pedet yang fungsinya sebagai  penerus kelangsungan usaha ternak. Pedet yang baru dilahirkan harus segera mampu bernafas setelah tali pusarnya putus. Lendir yang membasahi  lubang hidungnya harus segera dibersihkan, dan tubuh dikeringkan dengan kain yang agak kasar disertai tekanan tangan yang keras. Kalau pedet tidak bisa bernafas, perlu dirangsang melalui hidungnya dengan menggunakan tangkai sendok yang bersih, atau dengan jari tangan, sedalam lebih kurang 5 cm. Hal tersebut dimaksudkan untuk merangsang ujung syaraf di hidung, yang selanjutnya akan merangsang pusat pernafasan. Cara merangsang pernafasan dengan jalan menempatkan kedua kaki belakang di atas dan kepala dibawah, hingga pedet dalam posisi tergantung, yang diikuti dengan hentakan keras telapak tangan pada dinding dada berkali-kali,tidak dibenarkan. Tali pusar diikat lebih kurang 5 cm dari dindingperut, lalu didesinfeksi dengan alkohol 70% atau desinfektan lainnya. sisa tali pusar dipotong dan bagian yang tinggal mencegah terjadinya radang pusar (Omfalitis).

Apabila pedet diletakkan di depan induknya, segera induk tersebut membersihkan badab pedet dengan menggunakan lidahnya. Pembersihan yang dilakukannya disertai tekanan, hingga merupakan pijatan yang dapat merangsang peredaran darah anaknya. Biasanya pedet tersebut segera bangkit dan mencari ambing induknya untuk memperoleh kolustrum.

Bila tidak mampu berdiri sendiri sebaiknya pedet tersebut dibantu berdiri sampai sanggup menyusu sendiri. Pedet dapat dikumpulkan induknya, yang lamanya tergantungpada cara beternak.

 Pedet dan induknya disarankan dibiarkan selama 24 jam. Dalam peternakan besar biasanya pedet umur 1 hari segera dipisahkan dari induk, dikumpulkan dan ditempatkan dikandang pedet yang bersih, tidak berdebu, empuk, kering dan lebih hangat. Dapat juga pedet-pedet tersebut ditempatkan di dalam kandang terpisah, dengan ukuran 0,6 x 1.0 m. Tempat minum dan makan pedet harus disediakan terpisah dan secara rutin dicuci sebelum diisi.

Sebelum berumur 3 bulan, bila dikehendaki, tanduk pedet perlu dihilangkan.

 KEMATIAN PEDET

 Kematian pedet biasanya sejalan dengan a). skala usaha, makin besar ukuran suatu peternakan jumlah kematian jg makin tinggi, b). Perawat dalam peternakan, c). Jumlah kolustrum yg diberikan, apbila jumlah kolustrum yang diberikan kurang, pedet jadi lemah, d). Perkandangan, pedet yang dipelihara secara individual biasanya lebih kecil angka kematiannya dan f). Musim, pedet yang dilahirkan waktu musim hujan mungkin lebih mudah mengalami infeksi.

Kematian pedet sampai umur 1 bulan bisa berkisar antara 3-30% (rata-rata 10 %).kematian yang mencapai 20 % menyebakan penurunan keuntungan usaha sampai 38 %. Penyebab kematian yang dipandang memiliki arti ekonomik dalam peternakan meliputi :

  1. Keluron, lahir mati dan cacat bawaan. Kematian pedet juga meliputi yang disebabkan oleh penyakit-penyakit bruselosis, leptospirosis, distokia dan cacat bawaan (misalnya kare bawaan (misalnya karena BVD). Kematian ini biasanya mencapai 2-3% dari pedet yang dilahirkan
  2. Diare akut, yang dapat mencapai 75 % dari pedet sampai umur 1 bulan. Disebabkan agen E.coli, Salmonella, Clostridium perfringens tipe C, Rota dan Corona Virus, Cryptosporodia dan Eimeria sp.
  3. Diare kronik, disebabkan oleh rendahnya kualitas milk replacer.
  4. Omfaloflebitis, yaitu radang pusar dan pembuluh darah, disebkan oleh kuman E.coli, Corynebacterium, dan kuman lain.
  5. Septisemia, yang dialami pedet umur kurang dari 1 minggu karenakurangnya kolustrum(agammaglobulinemia)dan terbanyak disebabkan E.coli.
  6. Pneumonia Enzootik, dialami pedet 1-2 bulan karena hewan selalu dikandangkan, dan mengalami infeksi kuman atau virus. Kematian bisa mencapai 15 %darikematian pedet sampai umur 6 bulan.
  7. Penyakit nutrisional, kematian pedet berlangsung lambat terutama karena malnutrisi, defisiensi mineral (Cu, Zn, Fe) dan umur penyapihan pedet yang terlalu muda.
  8. Parasit Gastrointestinal, selain malnutrisi, di daerah tropik parasit internal cacing menyebabkan kematian pedet umur 2 bulan ke atas yang sangat tinggi. Parasit yang paling banyak ditemukan meliputi Neoascaris vitulorum, Trichostrongylus, Ostertagia, Nematodirus, bunostomum dan Haemonchus contortus.
  9. Pneumonia verminosa, yang disebabkan oleh cacingDictyocaulus viviparus. Pedet yang terserang terbanyak berumur 4-5 bulan keatas.
  10. Ektoparasit, yang mungkin berbentuk caplak, lalat, kutu dan tungau.

Untuk mencegah penularan agen penyakit yang tersebut di atas, faktor lingkungan yang perlu dihindari meliputi :

  1. overcrowding, pedet berbagai tingkat umur ditempatkan sekandang dan berdesakan,
  2. Kelembaban dan suhu meningkat akibat overcrowding , hingga terbentuk timbunan mikroorganisme.
  3. Ventilasi yang tidak lancar hingga menyebabkan gangguan respirasi
  4. Penempatan kandang pedet terlalu dekat dengan sapi dewasa.

Agar kematian pedet tetap kecil perlu dilakukan pemantauan melalui recording yang meliputi ;

  1. Jumlah pedet hidup dan tanggal lahir masing-masing hewan.
  2. Jumlah pedet yang mati dan tanggal kematiannya.
  3. Jumlah pedet sakit, diagnosis danterapinya. Jenis obat dan dosis perlu dicatat.
  4. Jumlah pedet mati, dan diagnosis pasca mati.
  5. Kecepatan pertumbuhan dan ukuran pedet
  6. Efisiensi pakan, jumlah dan jenisnya.

PENCERNAAN MAKANAN PEDET PASCA LAHIR

Sampai berumur lebih kurang 3 minggu, pencernaan makanan pedet masih dalam fase pre-ruminal, yang berarti rumen belum berfungsi. Pada saat dilahirkan rumen, retikulum, dan omasum merupakan 30 % dari semua volume lambung muka dan lambung sejati. Lambung sejati abomasum menempati 70 % dari seluruh volume lambung. Pada umur 2 bulan, abomasum hanya 30 %, sedang 70% terdiri atas rumen, retikulum dan omasum. Pada sapi dewasa prosentase rumen , retikulum, omasum dan abomasum berturut-turut 80, 5, 8, dan 7%.

Meskipun rumen pedet baru berfungsi setelah umur 3 minggu, akan tetapi untuk benar-benar berfungsi baru tercapai setelah pedet berumur 8 minggu,saat pedet siap sapih. Untuk merangsang pertumbuhan rumen pedet sudah harus dikenalkandengan hijauan dan makanan penguat sejak berumur lebih kurang 1 minggu.

Dalam waktu setengah jam sampai 1 jam setelah dilahirkan pedet harus memperoleh kolustrum dari induknya, atau dari induk lain bila induk mengalami gangguan sebanyak 5 % dari berat badannya. Bila pedet mengalami kesukaran menyusu pada induk, kolustrum diberikandengaan slang karet atau botol, setelah kolustrum diperah dari induk. Pemberian kolustrum kedua dilakukan 12 jam kemudian sebanyak 4-5 % dari berat badan. Dapat juga pemberian dalam 24 jam dilakukan 3 kali dengan jumlah 12-15 % dari berat pedet.

GANGGUAN PENCERNAAN PEDET

Pedet yang baru saja dilahirkan harus segera menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar yang sangat berbeda dengan saat masih di kandungan induknya. Kehidupan in utero yang hangat, makanan yang  serba kecukupan, bebas hama(steril) dan tanpa perlu mengeluarkan tenaga harus berganti dengan kehidupan yang penuh tantangan. Tantangan hidup yang harus dihadapi pedet antara lain berupa pergantian cuaca, ketidaksterilan lingkungan, pakan yang kurang tercukupi dll. Pedet  yang   baru dilahirkan tidak dibekali oleh induknya zat kebal seperti pada hewan yang lain. Karena sifat alami induknya, pedet terlahir dalam keadaan defisiensi vitamin A. sapi betina Induk hanya  mampu melahirkan, mungkin membersihkan anaknya, serta memberikan kolustrum dan air susu. Cairan tubuh tersebut sangat  penting untuk jaminan kelangsungan hidup pedet. Kolustrum harus diterima oleh si pedet terutama pada 24 jam pertama setelah   kelahiran.

Faktor-faktor pengelolaan  peternakan dan lingkungan yang sering berpengaruh atas pencernaan pedet meliputi sanitasi yg jelek, kandang becek, ventilasi udara yg kurang baik, dan keadaan kandang yang gelap. Penempatan pedet-pedet secara berdesakan, merupakan pengelolaan peternakan yang memacu gangguan pencernaan. Kurangnya penyediaan air bersih serta pemberian kolustrum maupun air susu juga memudahkan terjadinya ganguaan pencernaan pedet. Kekurangan kolustrum dan air susu mungkin disebabkan oleh kondisi induk yang jelek, baik itu karena terlalu muda dikawinkan, kedengki, atau karena adanya gangguan pada ambingnya. Air susu juga tidak akan cukup terbentuk bila sapi menderita cacingan dan malnutrisi.

Gangguan pencernaan pada pedet sampai umur 1 bulan yang sering terjadi adalah diare kemudian diikuti kelemahan umum karena kedinginan, kelaparan, infeksi pusar, inf eksi cacing dan penyakit defisiensi. Terjadinya penyakit infeksi oleh virus maupun kuman berkaitan erat dengan kekebalan pasif pedet yang diperoleh dari induknya, yang diberikan melalui kolustrum dalam 24 jam pertama setelah kelahiran.

Gangguan pencernaan makanan pedet yang paling banyak ditemukan serta paling mendatangkan kerugian adalah penyakit infeksi yang disertai dengan gejala diare (calf scour). Agen-agen penyakit yang paling sering menyebabkan diare meliputi :

  1. Kuman : E.coli, Salmonella sp, dan Clostridium perfringens tipe A, B, dan C.
  2. Virus : Rota-virus, Corona-virus dan Bovine viral diarrhea.
  3. Protozoa : Eimeria sp.

Diare pada pedet yang lebih tua umumnya banyak disebabkan oleh infeksi cacing. Di Indonesia hal tersebut terutama penting pada pedet-pedet yang berumur kurang dari  3 bulan

VITAMINISASI DAN MINERALISASI

Komponen dalam pakan pada umumnya terdiri atas ; air, hidrat arang, lemak, protein, vitamin dan mineral. Unsur yang harus tersedia cukup agar seekor hewan mampu memelihara fungsi faalinya adalah unsur air. Biasanya kekurangan unsur-unsur lainnyatidak akan menyebabkan kerugian yang segera teramati dan dirasakan. Semua hewan yang dipelihara harus mendapatkan air ad libitum . seekor sapi yang tidak berproduksi dan diberi pakan kering setiap hari memerlukan 45-55 liter. Kekurangan air sampai 10 % dari berat badan dapat mengancam kehidupan.

Hidrat arang dan lemak diperoleh dari hijauan dan konsentrat berfungsi untuk menjaga suhu tubuh, bahan bakar dalam proses kegiatan jaringan. Setelah kelahiran setiap hari diperlukan tambahan konsentrat 0,5 – 1 kg. Hal yang sangat perlu diperhatikan untuk tidak memberikan konsentrat berlebihan karena memyebabkan obesitas sehingga memudahkan gangguan metabolisme dan penyakit menular.

Protein dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan maupun alat vital tubuh. Di dalam rumen protein dimanfaatkan oleh mikroflora untuk pertumbuhannya. Sapi sebesar 500 kg memerlukan 0,3 kg protein yang dapat dicerna. Jumlah protein di dalam ransum dapat memenuhi 135-145 % dari jumlah protein di dalam air susu. Defisiensi protein menyebabkan hewan mudah mengalami infeksi, pertumbuhan terganggu, dan jika pada induk yang bunting menyebabkan pedet yang dilahirkan kekurangan zat kebal dari kolustrum. Karena protein termasuk bahan pakan mahal maka dapat digantikan dengan pemberian urea, biuret dan senyawa amonium. Urea selain dapat berguna juga dapat menyebabkan keracunan, sehingga harus dicampur secara sempurna dan tidak diberikan melebihi 1% dari ransum total, atau 3 % dari konsentrat. Selain itu urea harus diberikansedikit demi sedikit dan tidak boleh diberikan pada sapi yang terlalu lapar. Urea sebanyak 1 kg memiliki nilai setara dengan 2,8 kg protein.

Vitamin pada dasarnya dapat dibentuk di dalam rumen hewan memamah biak. Vitamin B kompleks  sepenuhnya dapat disintesis oleh mikroba di dalam rumen sehingga penambahan vitamin tersebut dari luar tidak diperlukan. Vitamin A dan karoten terdapat di dalam hijauan daun. Kegunaan vitamin A untuk pemeliharaan penglihatan, menjaga selaput lendir, perbaikan jaringan yang mengalami luka, peningkatan kemampuan reproduksi, serta menjaga integritas kelenjar. Defisiensi vitamin A menyebabkan rabun senja, pertumbuhan pedet terhambat, menyebabkan gangguan syaraf, diare, serta penurunan reproduksi.

Vitamin D diperlukan untuk pertumbuhan tulang, penyerapan calsium dari usus dan depositnya kedalam tulang.

Defisiensi vitamin D menyebabkan rachitis yang ditandai dengan bengkoknya kaki-kaki, persendian yang menonjol, dan kelemahan umum. Vitamin D terdapat dalam biji-bijian dan daun-daunan. Ergosterol dalam hijauan di dalamkulit akan diubah menjadi kalsiferol(vitamin D2) dengan bantuan sinar ultraviolet.

Vitamin E dapat diperoleh dari biji-bijian maupun hijauan pakan ternak. Kekurangan unsur tersebut dapat memicu gejala penyakit white muscle disease (WMD), yang ditandai dengan kekakuan otot, kesulitan bernafas dan lumpuh pada anak sapi umur 3-7minggu. Pada sapi dewasa menyebabkan gangguan pada jantung sehingga memicu retensi plasenta.

Unsur mineral yang dibutuhkan oleh sapi meliputi Ca, P, Mg, K, Na, Cl, S, I, Fe, Cu, Co, Mn, dan Se. Unsur-unsur tersebut dibutuhkan dalam pembentukan tulang, untuk menyusun protein dan lemak yang terdapat di dalam jaringan otot, alat-alat tubuh dan sel-sel darah serta dalam pembentukan sitem enjimatik. Mineral juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan asam-basa serta menjaga kemampuan kontraksi otot dan kepekaan syaraf.

artikel tentang kesehatan ternak dapat dapat klik disini

ditulis oleh…drh. Endang sulastri

Baca Juga :

Kategori:Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: