Beranda > Artikel > Optimalisasi Lahan Kering

Optimalisasi Lahan Kering

Pendayagunaan lahan tanah memerlukan pengelolaan yang tepat dan sejauh mungkin mencegah dan mengurangi kerusakan dan dapat menjamin kelestarian sumber daya alam tersebut untuk kepentingan generasi yang akan datang. Pada sistem lingkungan tanah, usaha-usaha yang perlu dikerjakan ialah rehabilitasi, pengawetan, perencanaan dan pendayagunaan tanah yang optimum. Pendayagunaan lahan atau tanah yang kurang tepat akan menyebabkan lahan atau tanah tersebut menjadi rusak (kritis) dan kehilangan fungsinya. Hilangnya fungsi produksi dari sumber daya tanah dapat terus menerus diperbaharui, karena diperlukan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk pembentukan tanah tersebut.

 Konservasi tanah didefinisikan sebagai penerapan berbagai tindakan atau perlakuan yang diperlukan pada suatu tanah usahatani, agar terjadi peningkatan produksi dan membangun produktivitas tanah yang dilakukan pada saat bersamaan. Hal ini berarti membuat tanah menghasilkan produksi yang berlimpah dari tahun ketahun untuk masa yang tidak terbatas, juga berarti membangun ketahanan tanah atau dengan pengertian lain konservasi adalah penggunaan tanah sesuai dengan kemampuannya, dan memberikan perlakuan kepada tanah sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan, agar tanah tidak rusak dan dapat dipergunakan serta dapat tetap produktif untuk waktu yang tidak terbatas. Pengertian produksi disini tidak terbatas hanya pada komoditi fisik seperti padi, serat, kayu dan air tetapi juga dalam artian non fisik seperti kenyamanan, keindahan dan sebagainya. Dalam praktek konservasi digunakan metode konservasi tanah yang merupakan tindakan atau perlakuan atau fasilitas yang dapat digunakan untuk mencegah kerusakan tanah atau untuk memperbaiki tanah-tanah yang telah rusak. Metode ini pada dasarnya dibagi dalam dua golongan, yaitu : 1) metode vegetatif dan 2) metode mekanik (Arsyad, 1985).

  1. Metode vegetatif adalah penggunaan tumbuhan atau tanaman dan sisa-sisanya. Termasuk dalam metode ini adalah penanaman pohon, penanaman rumput, pergiliran tanaman atau tumbuhan seperti mulsa dan pupuk hijau. Fungsi metode vegetatif adalah mencegah butir hujan yang jatuh sehingga mengurangi pukulan terhadap permukaan tanah, mengurangi jumlah air yang sampai dipermukaan tanah, mengurangi dan menghambat kecepatan serta daya rusak aliran permukaan dan memperbesar kapasitas infiltrasi.
  2. Metode mekanik adalah pembuatan bangunan-bangunan pencegahan erosi dan manipulasi mekanik tanah dan permukaan tanah. Termasuk dalam metode ini adalah pengolahan tanah menurut kontur, penanaman dan pengolahan menurut kontur (contour farming), pananaman dalam strip, pembuatan guludan, teras, saluran pengalih, saluran pembuangan, rorak, chek dam, sumbat gully dan sebagainya. Fungsi metode mekanik adalah memperlambat aliran permukaan dan mengalirkannya dengan kecepatan yang tidak merusak serta memperbesar infiltrasi air, kedalam tanah

 Selain dengan dua metode diatas, ada metode lain yang belum dimanfaatkan secara luas ialah penggunaan bahan atau preparat kimia untuk memantapkan struktur tanah, sehingga lebih tahan terhadap erosi, memperbaiki sifat-sifat hidrologi tanah dan merubah sifat-sifat kapasitas tukar kation tanah.

 PENGELOLAAN LAHAN KERING

Kawasan pa’jukukang merupakan kawasan kering yang berada pada arah selatan kota bantaeng. Topografi  Daerah tersebut berada pada dataran rendah dengan ketinggian yang berpariasi dari 0 – 15 persen dari permukaan laut, dengan hujan hanya 4 bulan pertahun. Jenis tanah pada daerah ini sebagian besar terdiri dari tanah podsolik merah kuning, yang dapat diprediksi sewaktu waktu akan terjadi defisiensi unsur-unsur unsur mikro. Biasanya pada tanah podsolik merah kuning kandungan bahan organik kurang dari 10 persen dan kandungan unsur hara N, P, K dan Ca biasanya rendah, reaksi tanah sangat masam hingga masam (Ph 3,5 – 5,0). Permeabilitas sedang hingga agak lambat, daya menahan air kurang dan peka terhadap erosi. Produktivitas tanah ini rendah sampai sedang. Untuk itu konservasi lahan yang tepat sangat diperlukan. Lahan kering kalau pengolahannya tepat akan mencegah dan mengurangi kerusakan dan dapat menjamin kelestariannya sehingga akan membawa manfaat yang besar untuk mendukung usaha pertanian dan juga dapat mendukung usaha peternakan. Namun disisi lain pemanfaatan lahan untuk pengembangan peternakan menimbulkan isu-isu yang santer, pandangan tentang dampak ternak terhadap lahan terpecah dalam dua kutub. Di satu pihak terdapat pandangan ekstrim yang memandang ternak sebagai hama yang menimbulkan kerusakan sumber daya alam. Di pihak lain terdapat keyakinan bahwa ternak justru dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan dan menjaga kesuburan tanah. Kedua pandangan tersebut sama-sama mengandung kebenaran, karena ternak memang ibarat pisau bermata dua. Dengan pengelolaan yang tepat ternak dapat dimanfaatkan, sebaliknya dapat menjadi musibah kalau dikelola secara ceroboh ( Soewardi, 1985 ). Di Indonesia, pandangan orang tentang hubungan peternakan dengan lahan masih sangat bersimpang siur. Di satu pihak orang berpendapat bahwa peternakan telah berkembang tanpa basis ekologi berada ditangannya. Kelompok ini memandang keadaan ini sebagai suatu kelemahan. Dipihak lain berkembang pendapat bahwa sifat tidak tergantung pada lahan (non-land base) justru merupakan ciri kekuatan peternakan. Kekeliruan ini terdapat di sementara kalangan di luar peternakan. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan berlarut-larut karena akan membawa kerugian kepada semua pihak.

Pada pengelolaan lahan kering

 Menurut Soewardi (1985) bahwa cara-cara yang tepat untuk menggunakan lahan kering secara operasional akan lebih berarti kalau peruntukan lahan dikelompokkan sebagai berikut: 1) lahan kering tanaman pangan, 2) lahan kering tanaman perkebunan, 3) padang rumput dan 4) lahan hutan.

  1.  Pada lahan kering tanaman pangan maka tanaman pangan yang umum berupa palawija, prioritas kedua adalah tanaman holtikultura, dengan demikian hijauan pakan untuk ternak berasal dari limbah pertanian tanaman palawija, gulma, peperduan dan pepohonan. Peperduan yang penting adalah lantana camara, lamtoro, kayu cina sedangkan pepohonan yang potensial adalah albizia, nangka dan sebagainya. Hijauan unggul ditanam dibibir teras, lereng teras dan dibatas-batas tanah, juga tebing-tebing dan selokan-selokan serta pinggir-pinggir jalan. Dilahan semacam ini peternakan adalah bagian integral sistem usahatani dengan klimaks berupa sistem ”agroforestry”. Ternak sangat berfungsi sebagai sumber pupuk kandang sedangkan pemanfaatan sebagai ternak kerja menduduki tempat kedua untuk peruntukan lahan untuk kepentingan ini diupayakan kawasan yang berada antra 0 – 3%  atau biasa disebut daerah datar. Dan pada kawasan ini dapat divariasikan dengan usaha pternakan ternak sapi, kuda dan kambing.
  2. Pada lahan kering tanaman perkebunan tanaman yang bisa dikembangkan adalah jambu mete, mangga, kelapa dan lain sebagainya. Pada lahan perkebunan masih dimungkinkan pemeliharaan ternak karena masih dimungkinkan untuk mengarit gulma sebagian pakan dan juga limbah dari perkebunan tadi masih dimunkinkan untuk pakan ternak misalnya jambu mete masih memungkinkan daging dar jambu mete tersebut diolah untuk pakan ternak tambahan. Disamping itu perkebunan rakyat membutuhkan pupuk kandang untuk tanaman perkebunan. Pemeliharaan ternak dibawah pohon kelapa yang lebih dikenal dengan “coco beef” memberi banyak harapan tetapi sudah pasti terjadi “trade off” antara kepentingan perkebunan dengan kepentingan peternakan. Penentuan lokasi ini berada pada 3 – 8 persen atau biasa disebut daerah landai
  3. Lahan kering untuk penanaman rumput. Rumput adalah sumber pakan ternak yang utama. Untuk pemanfaatan lahan kering sebagai penanaman rumput sebaiknya dilakukan penanaman rumput yang tahan panas dan dapat hidup pada kondisi ekstrim dan membuthkan tidak terlalu banyak air, misalnya rumput gajah dan rumput dari golongan legum.
  4. Pengelolaan lahan kering yang diperuntukan buat hutan. Untuk tanah kering pengelolaan hutan ditujukan untuk kepentingan konservasi. Pada areal hutan dapat divariasi dengan tanaman untuk pakan ternak yang berfungsi sebagai daerah penyangga pakan ternak.

 Prinsip penentuan lokasi penggunaan wilayah peruntukan pengembangan sektoral :

  1.  Daerah datar dengan lereng 0-3 persen diprioritaskan untuk budidaya tanaman pangan dengan memperlihatkan faktor-faktor batasnya.
  2. Daerah dataran landai 3-8 persen, berdasarkan kemampuan tanahnya adalah untuk peternakan atau mixed farming dengan tanaman pangan, dengan memperlihatkan prinsip konservasi tanah dan pencegahan erosi. Masalah penyediaan makanan ternak yang bermutu mutlak harus dipecahkan demi kelestarian lingkungan dan sumber daya alam.
  3. Daerah berombak – bergelombang 8-15 persen pada dasarnya adalah untuk budidaya tanaman tahunan/perkebunan.
  4. Daerah berbukit – bergunung lebih 15 persen pada dasarnya untuk kehutanan, terdiri dari hutan produksi dan hutan lindung.

*Karaeng Yang Agung

Ditulis agar menjadi bahan perdebatan

Baca Juga :

Kategori:Artikel
  1. Padiyah
    April 29, 2011 pukul 7:24 am

    cocokmi itu…..pa’jukukang memang harus dioptimalkan…kasian mereka yang ditinggal di daerah itu……………………………………

    • Padiyah
      April 29, 2011 pukul 7:24 am

      maksih cesss………………………..

  2. Rul
    Mei 1, 2011 pukul 1:29 pm

    pa’jukukang memang butuh sentuhan yang lebih optimal

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: