Beranda > Teknologi > Pemanfaatan Kulit Kakao Sebagai Pakan Ternak

Pemanfaatan Kulit Kakao Sebagai Pakan Ternak

Kulit kakao dikumpulkan pada suatu tempat. Setelah  terkumpul kulit kakao tersebut sebaiknya dicacah agar volumenya menjadi kecil, sebab dapat mempengaruhi kecepatan fermentasi bahan. Proses pencacahan dapat dilakukan secara manual dan mekanik. Secara manual dengan menggunakan pisau atau parang namun akan membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan dicacah dengan menggunakan mesin pencacah proses penangananyan akan lebih cepat.

PERMENTASI

Mikroba yang digunakan adalah mikroba dari jenis aspergillus dan dapat juga menggunakan mikroba yang banyak beredar dipasaran dengan merek starbio, EM4 dan tricoderma dan lain sebainya. Namun sebainya menggunakan aspergillus karena dari beberapa pengujian aspergillus menunjukan hasil yang bagus.

  • Sebelum fermentasi dilakukan, sebaiknya starter yang digunakan diaktifkan terlebih dahulu sekaligus dilakukan pembiakan. Berikut adalah tahapan aktifasi :
  • Sediakan air dingin yang bebas dari kaporit sebaiknya digunakan air sumur dalam wadah.
  • Larutkan gula pasir sebanyak 1%, urea 0,5% dan NPK 0,5% kedalam air. Misalnya air yang disediakan  jumlahnya 10 kg maka kebutuhan gula 50 gram, Urea 50 gram dan NPK 50 gram
  • Masukkan bibit starter kedalam larutan air, gula, urea dan NPK sebanyak 5 gram/10 Kg air. Jika menggunakan starter cair maka volume starter adalah 5 ml/10 liter air
  • Lakukan aerasi dengan menggunakan aerator selama 36 jam.
  • Kulit kakao yang sudah dicacah ditempatkan pada ruangan yang tidak  terkena air hujan dan panas matahari langsung dan beralaskan bambu. Hal ini dilakukan untuk menjaga kelembaban
  • Lakukan penyiraman diatas tumpukan bahan secara merata. Tebal tumbukan sebainya 10 cm, jika masih ada bahan maka buat tumpukan lag diatas tumpukan yang pertama dengan ketebalan yang sama, setelah itu lakukan penyiraman dengan menggunakan biakan starter. Begitu seteruanya sampai bahan telah habis.
  • Tutup tumpukan dengan menggunakan terpal untuk mengurangi masuknya mikroba pengganngu/pencemar dari udara.
  • Fermentasi dilakukan selama 6 hari.

PENGERINGAN DAN PENGGILINGAN

Hasil fermentasi kulit kakao dapat diberikan langsung kepada ternak setelah fermentasi. Namun jika akan dilakukan penyimpanan sebainya hasil fermentasi dilakukan pengeringan. Pengeringan dengan menggunakan sinar matahari langsung dapat dilakukan selama 2 – 3 hari. Setelah pengeringan dilakukan penggilingan dengan menggunakan mesin penepung atau dismill.

Limbah perkebunan yang lain seperti jambu mete, kulit kopi juga dapat dijadikan pakan ternak. Prosesnya sama dengan pengolahan kulit kakao. Proses fermentasi dari limbah perkebunan tersebut juga dapat dilakukan secara bersamaan. Pada dasarnya limbah perkebunan tersebut dapat langsung diberikan kepada ternak namun dari beberapa pengujian kadar nutrisi bahan meningkat secara nyata setelah difermentasi (guntoro, et.al.(2004)

LIMBAH

KANDUNGAN NUTRISI (%)

CP CF L Ca P BETN
KULIT BUAH KOPI
Non Fermentasi 5,81 24,2 1,07 0,23 0,02 33,4
Fermentasi 12,4 17,45 1,05 0,34 0,07 35,6
KAKAO
Non Fermentasi 7,17 22,42 2,02 0,12 0,05 32,1
Fermentasi 16,48 14,15 2,08 0,11 0,08 36,7
METE
Non Fermentasi 6,71 14,48 0,9 0,02 0,14 -
Fermentasi 21,29 8,56 1,21 0,03 0,24 -

Baca Juga :

About these ads
Kategori:Teknologi
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: