Beranda > Artikel > Pengembangan Kawasan Pa’jukukang Yg Merupakan Kawasan Kering

Pengembangan Kawasan Pa’jukukang Yg Merupakan Kawasan Kering

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Sebagai kabupaten agraris dengan potensi sumber daya alam yang kaya dan keanekaragaman hayati yang tinggi, sektor pertanian di kabupaten bantaeng sesungguhnya memiliki keunggulan komparatif yang tinggi. Jika keunggulan komparatif ini dikembangkan dengan keunggulan kompetitif melalui pengembangan sistem dan usaha agribisnis, maka akan menghasilkan produk dan jasa peternakan yang berdaya saing tinggi. Agribisnis diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah sektor peternakan dan menjadi wahana yang penting untuk menanggulangi kemiskinana di pedesaan.

Program pengembangan agribisnis secara operasional dilaksanakan melalui pengembangan kawasan agribisnis. Penetapan kawasan agribisnis disesuaikan dengan keunggulan masing-masing daerah baik kompetitif maupun komparatif sebagai basis usaha untuk menghasilkan produk-produk pertanian yang berdaya saing sesuai tuntutan pasar. Kawasan agribisnis yang dibangun di daerah dirancang dalam rangka merangsang tumbuhnya investasi masyarakat dan swasta terutama pengusaha lokal serta menggerakkan partisipasi masyarakat dan dunia usaha, sehingga melalui pengembangan kawasan agribisnis ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi wilayah.

Sebagai bagian dari pembangunan wilayah, sektor peternakan dalam mewujudkan program pembangunan peternakan secara operasional diawali dengan pembentukan, penataan dan pengembangan sentra-sentra/kawasan melalui pendekatan sistem dan usaha agribisnis. Dengan demikian melalui pengembangan kawasan peternakan yang berorientasi agribisnis dimasa mendatang diharapkan dapat menjawab tantangan dan tuntutan pembangunan peternakan yaitu kecukupan (swa-sembada) daging 2014, mempertahankan swasembada telur yang telah dicapai dan meningkatkan produksi susu dalam negeri serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak.  Hal ini penting karena saat ini dari 300.000 ton kebutuhan daging sapi nasional, sebagian masih impor.

DASAR PERTIMBANGAN

Dasar pertimbangannya adalah:

  1. Ancaman kemiskinan struktural, kebodohan dan keterbelakangan masyarakat pedesaan
  2. Ancaman putus sekolah fase wajar (9 tahun), karena alasan ekonomi.
  3. Ledakan angka pengangguran terbuka.
  4. Alih fungsi lahan yang cukup besar.
  5. Pemenuhan daging secara nasional sebagian besar adalah impor.
  6. Dukungan sumber daya lokal kabupaten bantaeng yang cukup tinggi tapi belum tergarap optimal.

TUJUAN

Tujuan dari pembentukan kawasan  ini adalah “meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat miskin pedesaan berbasis peternakan”.

Tujuan jangka panjang dari pembentukan kawasan peternakan ini adalah MELAHIRKAN USAHAWAN SOSIAL YANG  MAMPU MENGEMBANGUN KAVASITAS  EKONOMI  KELUARGA DAN  MASYARAKATNYA, MENUJU KEMANDIRIAN  EKONOMI, ENERGI DAN PENDIDIKAN YANG MENJUNJUNG  TINGGI  NILAI MORAL ETIKA, BERBAZIZ KEARIFAN LOKAL.

SASARAN

Sasaran dari kegiatan pengembangan kawasan agribisnis peternakan dikecamatan pa’jukukang yang merupakan sub kawasan kering adalah terbangunnya kawasan ekonomi yang berbasis kekuatan sumberdaya lokal yang Barlanlandaskan rasa kebersamaan  dan Menjunjung tinggi nilai moral etika serta Tatanan sosial yang ada dalam masyarakat

BAB II

ANALISIS DAN RUMUSAN MASALAH

ANALISIS MASALAH

Masalah yang dihadapi untuk pengembangan ternak sapi adalah :

  1. Produktifitas ternak rendah. Hal ini diakibatkan karena kualitas ternak yang rendah karena seringnya terjadi perkawinan sedarah (inbreeding), calving interval yang terlalu tinggi.
  2. Diversifikasi jenis usaha tani yang kurang.
  3. Pemanfaatan limbah ternak masih kurang.
  4. Pemanfaatan limbah tanaman masih kurang.
  5. Pengetahuan dan keterampilan peternk yang masih kurang.
  6. permodalan yang minim pada tingkat peternak karena akses permodalan yang kurang.
  7. Tingginya tingkat pemotongan ternak. Hal ini mengakibatkan kurangnya ternak jantan yang memiliki kualitas genetik bagus.
  8. Tingginya penjualan ternak betina produktif keluar daerah. Hal ini mengakibatkan semakin berkuarangya ternak betina yang berkaualitas.

RUMUSAN MASALAH

  • Unsur kelembagaan. Pada tahap ini diperlukan penataan dan penguatan kelembagaan pada tingkat petani
  • Penyediaan Penyediaan air dan prasaran serta sarana pendukung lainnya
  • Ternak

Paket teknologinya adalah: 1). Peningkatan kelembagaan, 2). Paket Teknologi (IB/Inseminasi Buatan, Transfer Embrio/TE, Budidaya Ternak, Pengolahan Pakan, pengolahan limbah ternak pengembangan HMT, 3). Pasca panen.

  1. FAKTOR PENDUKUNG PROGRAM,

    Faktor faktor yang dapat mendukung program adalah : a). Kebijakan yang berpihak. b). Adanya lembaga pendamping local. c). Perencanaan kawasan yang holisti. c). Pelibatan sumber daya lokal secara integral. d). Dukungan teknologi.

  2. FAKTOR PENGHAMBAT,

    faktor faktor yang dapat menghambat program adalah : a). Kebijakan yang tidak berpihak, b). Lemahnya koordinasi dan dan sosialisai lembaga, c). terkait, d). Lemahnya proses pendampingan, e). Adanya ego sektoral pada tingkat pelaksana, f). Rendahnya penerapan teknologi tepat guna

  3. STRATEGI PENCAPAIAN,

    Untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam membangun kawasan pa’jukukang yang merupakan kawasan sub marginal adalah dengan Sistem usaha tani dengan pola tanaman dan ternak dengan melakukan introduksi teknogi pengolahan pasca dan panen. Program yang dapat diterapkan adalah :

    Program Peningkatan Kelahiran: a). IB/Inseminasi Buatan, b). TE/Transfer Embrio, c). Intensifikasi Kawin Alam, d). Penambahan Induk dan Pejantan Baru, e). memperpendek calving interval. f). Pengembangan HMT, g). Penganekaragaman Pakan Ternak, h). Penyediaan Air.

    Program Pengendalian: a). Pengendalian Pemotongan Ternak Betina Produktif, b). Pengendalian Pengeluaran Ternak Betina Produktif, c). Pengendalian Penyakit dan Gangguan Reproduksi.

    Program Pengembangan: a). Peningkatan kelembagaan Petani, b). Penyediaan Prasarana dan Sarana Produksi, c). Penguatan Modal Usaha, d). Monitoring dan Evaluasi

BAB III

PAKET KEGIATAN

  1. RANCANGAN KEBIJAKAN,
    • Wilayah pengembangan : wilayah yang mempunyai prioritas bagi pengembangan dan penyebaran ternak menurut jenis ternak.
    • Wilayah pusat pertumbuhan : Wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan bagi pengembangan intesifikasi maupun agribisnis.
    • Wilayah penunjang : Wilayah yang secara tidak langsung menunjang bagi pengembangan ternak terhadap wilayah pengembangan maupun wilayah pusat pertumbuhan, sebagai suatu keterpaduan wilayah yang saling berinteraksi dan menunjang.

    ANALISIS TATA RUANG PENGEMBANGAN DAN PENYEBARAN TERNAK DI KAWASAN PA’JUKUKANG,

    Wilayah-wilayah di Kawasan pa’jukang dikembangkan untuk produksi ternak, informasi kesiapan lahan, sumberdaya manusia, daya dukung pakan alami, kepadatan maupun perangkat lunak lainnya dalam suatu analisis tata ruang wilayah penyebaran dan pengembangan peternakan.

    Sasaran analisis tata ruang wilayah penyebaran pengembangan peternakan mencakup semua data dan informasi komponen-komponen agroekosistem, dimana peternakan merupakan salah satu komponen penting di dalam setiap agroekosistem.

    Menyiapkan dan mengembangkan model tatanan informasi (data) peternakan yang dapat menunjang pembanguan ekonomi daerah.

    Memperoleh data dan informasi yang akurat dalam upaya meningkatkan populasi dan produktivitas ternak, penanggulangan penyakit ternak, dan kualiats produk peternakan yang diharapkan oleh konsumen/ pasar.

  2. RENCANA PROGRAM, pengembangan kawasan agribisnis peternakan dikecamatan pa’jukukang yang merupakan sub kawasan kering,
  • Kawasan perbibitan
    • Sentra pembibitan daerah
    • Sentra pembibitan rakyat (Kelompok Peternak)
    • Model perbibitan ternak daerah
      • Membangun sentra perbibitan ternak daerah
      • Mengembangkan kawasan perbibitan pedesaan
      • Menyiapkan ternak bibit dan bakalan
      • Model pengelolaan dengan sistem LEISA (input produksi rendah, dan berkelanjutan), intensif dan full teknologi.
      • Sistem perbibitan dengan teknologi IB dan semen sexing
      • Memperpendek jarak antar kelahiran (calving Interval),
      • Syarat lokasi, a). Lokasi sumber bibit atau berpotensi sbg wil. sumber bibit. b).  Mutasi ternak dapat dikendalikan. c). Agroekosistem sesuai.4.     Berpotensi untuk dilaksanakan secara terintegrasi dengan sektor dan atau sub sektor lain. d).    Diutamakan terintegrasi dengan program yang sudah ada. e). Cocok untuk pengembangan komoditas ternak unggulan. f).  Tersedia sarana, prasarana dan petugas teknis. g). Mudah dijangkau. h). Tersedia pendanaan
  • Kawasan Penggemukan
  • Industri Pakan Ternak, program ini berfungsi
  1. Menyediakan pakan ternak melalui optimalisasi pemanfaatan bahan baku pakan dari hasil samping pertanian.
  2. Penggunaan peralatan pengolahan pakan sederhana dan moderen untuk pakan jadi
  3. Agribsinis pakan skala pedesaan
  4. Pendukung utama agribisnis perbibitan dan penggemukan
  • Pengolahan Limbah Ternak Menjadi Kompos
  • Pengembangan HMT
  • Pembentukan dan Pengembangan KPIB (Kelompok Pengguna Inseminasi Buatan).
    Keberadaan KPIB akan optimal jika dalam satu desa/kelurahan terdapat minimal 5 KPIB
  • Pembangunan dan Pengembangan Pos IB.

    Lokasi penempatan pos IB diharapkan untuk lebih mengoptimalkan pelayanan inseminasi buatan. Lokasi pos IB untuk kawasan pa’jukukang adalah desa rappoa, desa baruga, desa tombolo dan desa pattallassang.

  • Pengembangan Pos Kesehatan Hewan.

    Lokasinya berada ditiap kecamatan.  Pembangunan Pos kesehatan Hewan ini diharapkan dapat lebih mendekatkan dan mengoptimalkan kesehatan ternak dengan peternak

  • Pengembangan SDM dan Kelembagaan
  • Ketersediaan Air.
  • Terminal Agribisnis
  • Kawasan Mandiri Energi dan Pangan,
  1. Kawasan agribisnis peternakan terpadu  yang memanfaatkan  limbah organik yang dihasilkan  menjadi sumber energi terbarukan (biogas)  yang mengakibatkan terciptanya   multiple effek (cluster bisnis) yang kompleks dan terpadu serta  berkelanjutan (Suistainable agriculture).
  2. Sebagai sumber energi dan bahan bakar, memiliki keuntungan :a). Mengurangi penebangan pohon untuk dijadikan kayu bakar. b). Mengurangi pemakaian minyak tanah  yang harganya terus melonjak dan terkadang stock tidak ada . c). Mnjadi sumber listrik telah tersedia genset khusus untuk biogas
  3. Adalah pola usaha  ramah lingkungan turut serta dalam  mereduksi pemasan global (global Warming). Pemanfaatan gas methan yang terbuang  menjadi  energi terbarukan .
  4. Adalah pola usaha yang dapat  menciptakan kemandirian energi  berupa  energi bahan bakar , energi  listrik dan energi berupa organik fertilizer (pupuk organik) .
  5. Hasil buangan dari biogas dapat langsung dipakai sebagai pupuk organik, untuk mengurangi pemakaian pupuk kimia dan memabantu pemulihan tanah .

BAB V

PENUTUP

Pembangunan Kawasan pa’jukukang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di kabupaten bantaeng, untuk sektor peternakan mengaju kepada komoditas unggulan dan berbasis sumber daya lokal.

Demikian tulisan ini dibuat untuk semoga bias bermanfaat. Dan penulis mengharapkan kritik dan saran untuk penulisan lebih lanjut.

Baca Juga :

Kategori:Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: